Jumat, 06 November 2009

Cicak vs Buaya

bingung cicak ma buaya, ketemunya tepuk tangan koruptor. Rumit, kalo motifnya gak naek2 dari kebutuhan dasar.

Sabtu, 31 Oktober 2009

Cinta: Kesabaran yang Berwajah Manis



Orang bilang cinta itu rumit. Bener, mungkin. Kalo gitu disederhanakan saja... Einstein bilang, kecerdasan seseorang terlihat ketika menyederhanakan yang rumit. Pada kenyataannya, kalo kita mikir terlalu rumit dan mengawang-awang, cinta hanya jadi bumerang yang bikin orang sulit bersyukur dengan kekurangan pasangan, walimah yang ribet, dan pernikahan yang pengennya serba manis dan sempurna.

*Seorang teman (dan juga ayah bagi anaknya) mengatakan kepada saya, kesabaran seseorang sesungguhnya hanya terlihat jika ia telah memiliki bayi. Mungkin ketika harus bantu nyuci popok, bangun buat menyediakan air panas, minimal menemani istrinya yang mulai terlihat kantung matanya yang menggelap.

*Seorang ibu menahan pegal-pegal yang rutin di punggung, di perutnya, ketika mengandung dan setelah melahirkan (nifas).

*Lagi-lagi seorang ibu bangun di tengah malam, menyusui, meninabobokan anaknya kembali. Dan sekali pernah saya tanyakan kepada kakak, "Mbak, enak gak sih punya bayi?", "capek...", katanya. Benar, batin saya. Cz kelihatan banget hari demi hari aktivitasnya.

*Dan lagi-lagi seorang ibu harus bersabar karena anaknya yang beranjak dan mulai rewel dengan keberadaan sibling-nya. Mulai mbandel... Apalagi Bapaknya (baca: suaminya)...hehe :p

*Di lain tempat, seorang sahabat bahkan rela mendengarkan keluh kesah sahabatnya yang lain. Mendengarkan dengan ketulusan dan tanpa mencela.

*Di lain waktu, seorang abid sempurna rela untuk menjalani kehidupan yang penuh kebaikan dan ibadah. Berjalan dengan telaten di atas onak dan duri medan dakwah.. Dan Muhammad SAW telah membuktikan kesabaran itu dengan kecintaannya kepada Allah.

Dan mengapa beberapa orang mau dan rela untuk bersabar seperti itu? Capek, meletihkan, pegal, tapi tetep dijalanin, tetep senyum dan seneng... Tak lain karena cinta memang kesabaran yang berwajah manis.
Karena juga sebaliknya. Sabar, yang orang bilang rasanya pahit, akan dijalani dengan manis jika dimaknai dengan cinta...
sesederhana dan sesulit itu ketika mereka menjalani cinta.. wallahua'lam wastaghfirullah.

Jumat, 21 Agustus 2009

Duhai Allah, Ramadhan-kan Hamba...

Ya Allah, Ramadhan ini... Tasbih ini
Tarawih ini
Sahur kami ini
Tilawah kami
Ikhtiar terhadap diri ini
Lapar dan haus kami
Pandangan mata kami
Pendengaran dan ucapan kami
Lemas kami
Kesturi kami yang Kau janjikan
Kedekatan hati kami
Cinta di hati kami
Peduli kami ini

Ya, Allah semua keindahan ini
semua yang Engkau Perindah di diri kami
Allahumma innaka afuwwun tuhibbul afwa fa' fu'anna...

Ya Allah, Robb kami
untuk setiap orang yang Engkau cintai
setiap orang yang meminta afuw.. yang meminta maaf kepada-Mu
kuatkanlah, tetapkanlah dalam sayang-Mu Robbi...

Ya Allah, Yang Menguasai Jiwa kami
Perindahlah hati kami
Akhlak kami
Ucapan dan perbuatan kami

Wahai Robb, rumah perasaan kami ini
Buatlah diri ini nyaman dalam kamar-kamar perasaan kami
Buatlah diri ini menikmati tanpa pilih di setiap ruangnya

Kamar kesedihan kami
Biarkan kami masuk dan tunduk dalam kesedihan
Dalam kegelapan tafakur di sini
Dan semakin besar kerinduan kepada-Mu, Allah

Kamar Kebahagiaan kami
Biarkan kami tetap melihat cahaya
Dalam cerahnya syukur yang dirasa
Dan semakin besar kecintaan kepada-Mu, Robbi

Kamar kesenangan kami
Biarkan Ya ALlah, tanganMu yang lembut merengkuhku
Dalam hangat cinta-Mu
Dalam kesenangan bersama-Mu
Buatlah hati kami merindu-Mu

Robbi, jika Engkau mengizinkan kami bertemu dalam Takbir-Mu
Jadikanlah hamba sesuci fitrah dari-Mu
Dan setiap hembusan nafas ini...
Ramadhan-kan selamanya hati hamba
Untuk cinta-Mu
Untuk orang-orang yang mencintai-Mu
Untuk orang-orang yang membuat hamba mencintai-Mu

Amin, Duhai Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang


(ichsan's August, 2009)

Selasa, 18 Agustus 2009

Teroris Media yang Miris

apa yang Anda rasakan ketika menonton aksi pengerusakan, tawuran, atawa penggerebekan?

praktis denyut jantung Anda meningkat, aliran darah mengalir cepat, dan kemarahan menanjak. Tahukah Anda ekspos media saat ini demikian merisaukan sekaligus tak mendidik?

Ketika Anda menonton penggerebekan rampok atau paling mudah yang terakhir, penggerebekan teroris paling 'bodoh' (maaf) yang pernah saya lihat, yang kemudian Anda rasakan adalah hanyut dalam kebencian terhadap objek.

Anda akan mendengarkan banyak caci maki dari mereka yang nonton bareng. Penonton dikondisikan dalam stress dan keadaan ini berlangsung selama suasana duka. Anda akan terpicu untuk ikut membenci, Anda akan terseret dalam arus perasaan negatif yang tak sehat. Maka, tidak heran banyak orang mengatakan malas membaca atau menonton berita di media, membahasnya, apalagi yang vulgar, karena merasa korban dijadikan obyek saja dan terus diingatkan pada kejadian menekan.

Aktivitas intel kepolisian kita memang patut diacungi jempol, hingga mampu 'meniteni' lokasi teroris terakhir. Tapi endingnya mengecewakan, bukan hanya Noordin yang tak tertangkap tetapi juga cara mereka memerangi Mr.X di dalam. Well, Densus 88 terkesan pengecut, tak terampil.

Seharusnya mereka tahu berapa orang yang di dalam, dan apa tindakan selanjutnya. Yang ada, tembakan membabi buta, padahal situasi sudah jelas (karena teknologi robot). Memerangi teroris dengan cara seperti ini menghabiskan energi penonton. Anda bayangkan 12 jam lebi non stop!

Kalau mau dicari matinya, kenapa tak lantas di bom saja itu rumah? Toh akhirnya polisi pakai cara "hajar bleh" pakai pistol tanpa arah persis seperti teroris juga. Di bom tak perlu menguras energi negatif penonton selama 12 jam lebih.

Tayangan-tayangan semacam ini hanya akan membangkitkan kebencian, permusuhan, adu domba, dan saling mencurigai dalam tubuh umat. Orang pakai cadar, dibilang istri teroris. Pakai jenggot disebut calon teroris.

Padahal Profesor Sarlito pernah berpendapat di Kompas, bahwa mereka--para teroris itu--tak seharusnya dibenci. Sebab teroris itu juga bekerja atas dasar kebencian terhadap Amerika dan Israel, Ketidakadilan Global, plus perasaan rendah diri tentang keadaan umat Islamnya. Kalau begitu, apa bedanya kita dengan mereka?

Kebanyakan mereka juga justru orang yang baik, taat beragama, peduli dengan keluarga, bahkan membawa perubahan di penjara. Mereka hanya orang-orang yang salah jalan, salah ijtihad. Mereka korban cuci otak kaidah pemahaman Al-Qaidah, organisasi misterius dengan Osama yagn juga misterius (Syaikh, bukan Ulama juga bukan. Konon Osama adalah mantan agen CIA). Kita membenci perbuatannya, tapi tidak membenci orangnya, apalagi main stigma.

Dan media tampaknya harus punya kejelian yang lebih, dalam hal inteligen psikologi massa. Intelijen media ini penting untuk mengetahui akibat yang ditimbulkan pre dan post penayangan. Sebagaimana profesional jurnalistik yang beretika. Semoga saja...

Doa

Allah... Engkau Maha Tahu apa yang tengah ku hadapi...
Engkau tengah mempersiapkan ku untuk anugerah-Mu

Maka, tambahkanlah juga kesabaran itu Robb.
Buatlah aku layak untuk kejutan-Mu,
untuk keajaibanMu,
untuk cintaMu

Engkau yang mempermudah apa-apa yang sulit
Engkau yang mengganti cinta menjadi benci
Engkau yang menguasai segala kuasa
Engkau pula yang menguasai jiwa kami
Engkau pula yang menjadikan kami ikhtiar kepada-Mu

Buatlah pengalaman ini, kesedihan ini, kebahagiaan ini sebagai pintu syukur yang mendalam wahai sebaik-baik Yang Mensyukuri... AMIN

Selasa, 04 Agustus 2009

'Pelajaran' dari Mereka yang Disebut 'Teroris'


bikin geger.. tapi teror tetaplah teror. Seperti yang dikatakan Goenawan, ia akan mati karena tak punya harapan.

Mereka yang disebut 'teroris', melakukan untuk sesuatu yang ada di kepala mereka. Mereka melakukan dan berkorban untuk apa yang menjadi keyakinan mereka. Katakanlah keyakinan akan surga, misi jihad, atau apapun bagi mereka sebut sebagai solidaritas sesama muslim, perjuangan pembebasan, dan nilai-nilai luhur lainnya.

Anda bisa bayangkan, orang akan rela melakukan apapun untuk sesuatu yang dianggap luhur. Cinta, solidaritas, keimanan, atau apapun yang manusia anggap luhur--seberapapun keliru caranya. Orang berani rela bunuh diri karena pacar ('cinta'), pelajar bisa tawuran atas dasar 'solidaritas', dan suicide bomber bisa berbuat itu atas dasar 'ibadah'.

Bukan pula rahasia umum bahwa para pelaku bom di Indonesia adalah 'alumni' mujahidin afghanistan. Mereka yang rela meninggalkan keluarga, tanah air, kekayaan mereka untuk sebuah semangat membela saudaranya. Ketahuilah, mereka punya kemampuan itu, mereka punya senjata itu. Mereka ingin nilai luhur syahid, keluhuran nilai hidup yang dominan di kepala mereka.

Sedangkan polisi, pemerintah, atau tentara kita? Politisinya? Pendidikannya? Atas dasar apa berbuat? Atas keluhuran apa mereka bekerja? Sayapun jadi teringat rupiah sejumlah 60 juta, 100 juta, 200 juta untuk menjadi PNS, polisi, atau jaksa di sebuah provinsi. Saya jadi teringat hipokritnya lembaga pendidikan pesantren tertentu menjual suara santrinya untuk calon gubernur tertentu, calon presiden tertentu, atau parpol tertentu. Saya jadi malu seribuan rupiah, dua ribuan lusuh untuk masjid, sementara 50-100 ribu wangi untuk Starbucks dan makanan anjing. Saya jadi bingung 80% muslim yang zakatnya tak mampu memberantas kemiskinan, bahkan minoritas secara ekonomi. Sayapun jadi heran polah 'muslim liberalist' yang tak pernah beranjak dari membela minoritas umat dari sisi jumlah kepada pembelaan minoritas umat dari sisi ekonomi.

Di sisi lain, saya jadi teringat betapa mirisnya nasib segelintir orang yang ingin mewujudkan keberagamaan yang baik, atau menjadikan agama sebagai panglima mereka, lalu menjadi terasing diantara lautan kemaksiatan massal di masyarakat. Saya jadi teringat betapa terpinggirkannya orang-orang itu hingga kemarahan mereka menjadi kekerasan, lalu dimanfaatkan pihak lain, dan meledak menjadi musibah karena mereka tak tahu cara lain mewujudkan cita-citanya. Karena tak ada pihak lain yang peduli pada cita-cita mereka. Saya yakin, mereka adalah orang-orang yang frustrasi.

Dan tampaknya kita memang perlu belajar dari 'teroris' itu, terlepas dari keliru dan kejamnya cara mereka. Tentang berbuat atas dasar apa yang ada di kepala. Bukan untuk perut, semangat untuk memiliki bukan memberi, atau karena gaji, jabatan, uang damai, dan beberapa kebiasaan buruk itu. Karena polisi dan pemerintah kita takkan berdaya menghadapi mereka jika tak mulai meninggikan nilai-nilai luhur di kepala. Seberapapun canggih senjata dan pertahanan kita.

Kita terancam musibah yang lebih besar lagi. Karena bahaya itu kita yang mulai; WAHN. Cinta dunia takut mati. inna lillahi wa inna ilaihi raji'un...

Meskipun begitu, saya masih bertahan memimpikan nilai-nilai luhur itu. KEDAMAIAN, KESEDERHANAAN, KEADILAN, KESEJAHTERAAN. Saya memimpikan kita semua berbuat atas dasar itu; CINTA, SOLIDARITAS, KEPEDULIAN. Saya memimpikan pemimpin yang punya keluhuran KEBIJAKSANAAN, KEADILAN. Saya menginginkan pegawai dan aparat yang berbuat atas dasar KEJUJURAN, IHSAN (profesional), PELAYANAN. Saya yakin, kita akan sampai... Kita akan "meledak", dengan semangat yang sama, tapi dengan prestasi. Jangan kalah dengan 'teroris' itu.

Sekali lagi, berbuatlah untuk apa yang ada di kepala kita. Bukan untuk perut alias nafsu kita. Karena niatmu adalah kesejatian dirimu...

wallahu a'lam wastaghfirullah.

Duka Cita

Selamat jalan Mbah Surip...

Anda menawarkan banyak kebaikan, kejenakaan, kesederhanaan, kejujuran.

Semoga amal Anda diterima di sisi-Nya... Amin.